Mitos Keraton Kasunanan Surakarta dan sekitarnya di Pasar Kliwon
Mitos Keraton Kasunanan Surakarta dan sekitarnya di Pasar Kliwon
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, tak lepas dari selubung misteri dan cerita-cerita lisan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dari sekian banyak kisah, Mitos Keraton Kasunanan Surakarta dan sekitarnya di Pasar Kliwon menjadi narasi yang paling menarik perhatian, menggambarkan perpaduan kuat antara sejarah, kepercayaan spiritual, dan kehidupan masyarakat Jawa. Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai mitos yang berkembang di sekitar keraton, khususnya yang berkaitan dengan hari Pasar Kliwon, dan bagaimana kisah-kisah ini membentuk identitas budaya setempat.
Baca Juga: Piguno Interior Kontraktor, Jiwani Architects Studio, Damai rent Car Solo
- Mitos di Keraton Surakarta adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas budaya Jawa.
- Hari Pasar Kliwon memiliki makna spiritual dan mistis yang mendalam, sering dikaitkan dengan kekuatan gaib dan ritual tertentu di sekitar keraton.
- Mitos-mitos ini bukan sekadar cerita, melainkan juga berfungsi sebagai penjaga nilai-nilai luhur, etika, dan filosofi hidup masyarakat Jawa.
- Pemahaman akan mitos membantu menghargai kekayaan warisan budaya dan kearifan lokal yang masih lestari hingga saat ini.
Daftar Isi
Menelusuri Akar Mitos di Keraton Surakarta

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
Keraton Kasunanan Surakarta, yang didirikan pada tahun 1745, adalah simbol kekuasaan dan kebudayaan Jawa yang kental. Sebagai pusat pemerintahan dan spiritual, keraton ini menjadi wadah bagi berbagai kepercayaan dan praktik mistis yang telah ada jauh sebelum berdirinya kerajaan. Mitos-mitos yang berkembang di sana seringkali berakar pada tradisi animisme dan dinamisme kuno, yang kemudian berasimilasi dengan pengaruh Hindu-Buddha serta Islam.
Fungsi Mitos dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Mitos di Keraton Surakarta memiliki fungsi yang multidimensional. Bukan hanya sebagai cerita pengantar tidur atau hiburan, mitos seringkali berfungsi sebagai:
- Penjaga Moral dan Etika: Banyak mitos mengandung pesan moral yang mendalam, mengajarkan tentang pentingnya keselarasan, hormat kepada leluhur, dan ketaatan pada tatanan.
- Penjelas Fenomena Alam: Sebelum adanya ilmu pengetahuan modern, mitos sering digunakan untuk menjelaskan fenomena alam yang tidak dapat dipahami, seperti gempa bumi atau wabah penyakit.
- Penguat Identitas: Mitos membantu memperkuat identitas komunal dan rasa memiliki terhadap warisan budaya nenek moyang.
- Pedoman Ritual dan Adat: Beberapa mitos menjadi dasar bagi pelaksanaan ritual atau upacara adat tertentu yang masih dilakukan hingga kini.
Signifikansi Pasar Kliwon dalam Dunia Mitos Keraton
Hari Pasar Kliwon dalam kalender Jawa memiliki makna spiritual yang sangat penting. Kliwon adalah salah satu dari lima hari pasaran (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi) yang dipercaya memiliki energi atau aura mistis yang berbeda. Khususnya hari Kliwon, sering dianggap sebagai hari yang “kuat” atau “angker”, di mana batas antara dunia manusia dan dunia gaib menjadi lebih tipis.
Mitos dan Kepercayaan Terkait Pasar Kliwon di Sekitar Keraton
Banyak Mitos Keraton Kasunanan Surakarta dan sekitarnya di Pasar Kliwon yang berkembang, di antaranya:
1. Munculnya Makhluk Gaib atau Penampakan:
Pada malam Kliwon, terutama Jumat Kliwon, masyarakat sekitar percaya bahwa energi spiritual di lingkungan keraton dan sekitarnya meningkat tajam. Konon, beberapa penunggu keraton atau arwah leluhur sering menampakkan diri atau aktivitasnya lebih terasa. Area seperti Sasana Sewaka, Panggung Songgobuwono, hingga Baluwarti diyakini memiliki energi paling kuat.
2. Pelaksanaan Ritual dan Tirakat:
Hari Kliwon sering dipilih untuk melakukan berbagai ritual atau tirakat (bertapa/puasa untuk mencapai tujuan spiritual). Para abdi dalem, spiritualis, atau bahkan masyarakat umum sering melakukan laku prihatin, berdoa, atau memberikan sesaji di tempat-tempat tertentu di sekitar keraton, seperti di pohon beringin kembar Alun-alun Utara atau di sepanjang Bengawan Solo yang mengalir dekat Surakarta. Tujuannya beragam, mulai dari memohon berkah, keselamatan, hingga mencari petunjuk gaib.
3. Pusaka Keraton dan Kekuatan Gaibnya:
Mitos yang kuat juga menyelimuti pusaka-pusaka keraton. Di hari Kliwon, khususnya setelah prosesi jamasan (pembersihan pusaka), kekuatan magis pusaka-pusaka ini diyakini meningkat. Beberapa pusaka bahkan konon “hidup” atau mengeluarkan aura yang sangat kuat, dan hanya orang-orang tertentu yang memiliki kepekaan spiritual yang bisa merasakannya.
4. Larangan dan Pantangan Khusus:
Ada beberapa larangan atau pantangan yang dipercaya berlaku pada hari Kliwon, terutama bagi mereka yang memiliki hubungan erat dengan keraton atau sedang melakukan tirakat. Misalnya, tidak boleh berkata kotor, harus menjaga hati dan pikiran tetap bersih, atau bahkan ada larangan melangkahi benda-benda tertentu yang dianggap sakral. Melanggar pantangan ini dipercaya dapat membawa kesialan atau murka dari kekuatan gaib.
Melestarikan Mitos di Era Modern
Di tengah gempuran modernisasi dan informasi digital, Mitos Keraton Kasunanan Surakarta dan sekitarnya di Pasar Kliwon tetap lestari dan bahkan menarik perhatian generasi muda. Ini bukan hanya karena daya tarik misterinya, tetapi juga karena masyarakat mulai menyadari nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Mitos-mitos ini menjadi bagian dari narasi identitas yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, memberikan pelajaran tentang sejarah, filosofi hidup, dan kekayaan budaya yang tak ternilai.
Upaya pelestarian dilakukan melalui berbagai cara, seperti pementasan seni, cerita lisan, penulisan buku, dan bahkan adaptasi dalam media modern. Dengan demikian, mitos tidak hanya menjadi warisan sejarah, melainkan juga sumber inspirasi dan kearifan yang terus relevan.
Mitos Keraton Kasunanan Surakarta dan sekitarnya di Pasar Kliwon adalah cerminan kekayaan spiritual dan budaya Jawa yang tak lekang oleh waktu. Setiap cerita, ritual, dan kepercayaan yang terkait dengan hari Kliwon bukan sekadar takhayul, melainkan mengandung makna yang mendalam tentang hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kekuatan tak kasat mata. Memahami mitos-mitos ini berarti menyelami jiwa kebudayaan Jawa yang kompleks dan memukau, mengajarkan kita untuk menghargai warisan nenek moyang yang penuh kearifan. Semangat pelestarian akan memastikan bahwa kisah-kisah ini terus diceritakan, menginspirasi, dan memberikan pelajaran berharga bagi generasi mendatang.
Link Partner = Info Solo, Toko Material Interior, Interior Piguno Surabaya, Interior Piguno Solo
Informasi Kontak
Ari Blogger
Gunungsari, Tempel, Kec. Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57557 – 081339317358
Email: w@wongso.my.id
Website: https://ari.my.id
Hubungi via WhatsApp
Tanya Jawab Umum
Apa itu Keraton Kasunanan Surakarta?
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah istana resmi Kasunanan Surakarta, yang berfungsi sebagai pusat kebudayaan dan pemerintahan monarki tradisional Jawa. Didirikan pada tahun 1745, keraton ini merupakan salah satu pilar utama pelestarian budaya Jawa.
Mengapa hari Pasar Kliwon penting dalam konteks mitos keraton?
Hari Pasar Kliwon dalam kalender Jawa dipercaya memiliki energi spiritual yang kuat. Banyak masyarakat Jawa, terutama di lingkungan keraton, menganggap hari ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan ritual, tirakat, atau sebagai waktu di mana aktivitas gaib lebih terasa. Batas antara dunia nyata dan gaib diyakini menipis pada hari Kliwon.
Apakah mitos-mitos ini masih dipercaya oleh masyarakat modern?
Meskipun di era modern, kepercayaan terhadap mitos masih cukup kuat di kalangan masyarakat Jawa, terutama bagi mereka yang menjunjung tinggi tradisi dan spiritualitas. Bagi sebagian lainnya, mitos dianggap sebagai warisan budaya yang mengandung nilai-nilai filosofis dan etika, tanpa harus sepenuhnya diyakini secara harfiah.
Bagaimana cara terbaik untuk mempelajari lebih lanjut tentang mitos Keraton Surakarta?
Cara terbaik adalah dengan mengunjungi langsung Keraton Surakarta dan museumnya, berbicara dengan abdi dalem atau pemangku adat, membaca literatur sejarah dan kebudayaan Jawa, atau mengikuti tur budaya yang diselenggarakan oleh pemandu lokal yang berpengetahuan.
